Bolehkah kali ini aku merancau tentang dirimu? Karena banyak ribuan kata
yang tersumpal difikiranku memaksa untuk keluar. Mereka ingin menyampaikan
kepada dunia betapa bahagianya diriku sejak kejadian kemarin sore, seakan ada
satu harapan yang tumbuh lagi setelah beberapa bulan layu dan seolah akan mati.
Aku tak tahu begitu pasti apa yang membuat hubungan kita sangat rengang
beberapa bulan ini, mungkin karena kesibukanku atau karena kesibukanmu? Entahlah.
Beberapa bulan yang cukup menyenangkan sebenarnya, karena aku bisa belajar
banyak hal tapi entahlah, aku merasa kehilangan sosok yang aku sendiri tidak
bisa menjelaskannya. Hidupku cukup menyenangkan tapi dibalik itu semua
sebenarnya aku kehilangan sosok dirimu yang biasanya mengisi hari-hariku.
Aku sudah memintamu ‘pulang’ beberapa minggu yang lalu, tapi tanggapanmu
saat itu benar-benar hampir membunuh harapanku. Kesal, sedih, rindu, entahlah
apa perasaanku saat itu, ku fikir tak ada kata yang dapat menafsirkan
perasaanku saat itu dengan sempurna.
Ahh sudahlah ku fikir hubungan kita akan berakhir saat itu, ku fikir
mimpi-mimpi yang dulu kita pahat di hati masing-masing akan hilang begitu saja.
Sejak saat itu aku memutuskan untuk menjalani hidupku sendiri tanpa menganggumu
dan memaksamu ‘pulang’ lagi.
Tapi, masih ada sesuatu yang menganjal hatiku, perkenalan kita yang cukup
lama membuatku cukup mengerti sosok dirimu. Kau bukan tipe orang yang dengan
mudahnya melupakan janji-janjimu, bahkan saat kau benar-benar tak menghubungi
perasaan sayangmu padaku masih benar-benar ku rasakan, mungkin ini efek dari
lantunan do’a yang sering kau panjatkan kepada Rabb kita, tanpa
sepengetahuanku. Aku benar-benar merasakan itu, hingga membuat setitik harapan
merekah kembali. Mungkin kau hanya butuh waktu untuk sendiri, begitu fikirku.
Hari-hari berikutnya ku isi dengan menunggu kepulanganmu, menunggu dengan
hal-hal yang bermanfaat yang aku yakin jika kau mengetahuinya kau akan mendukungku
sepenuhnya, aku yakin.
Hingga akhirnya kemarin, rasa rindu itu tak bisa ku tahan lagi. Entah
mengapa ide untuk menghubungimu tiba-tiba saja muncul di kepalaku, padahal
sebelumnya aku benar-benar enggan menghubungimu, menunggu kau yang bertindak.
Tapi entahlah, rasa rinduku saat itu menghilangkan semua argumen-argumen yang
sempat ku bangun sebelumnya, yang ada difikiranku saat itu adalah AKU RINDU.
Saat mendengar suaramu untuk pertama kalinya sejak beberapa bulan lalu, ada
bulir-bulir embun yang meluncur dimataku. Ya Rabb, terimakasih untuk kesempatan
yang indah ini, batinku berucap. Itu
menjadi waktu yang paling berharga sejak beberapa bulan terakhir.
Saat itu, kita mengeluarkan apa saja yang ada dikepala kita, menjawab semua
pertanyaan-pertanyaan sejak beberapa buan lalu. Dan yang tidak bisa aku lupakan
adalah suara tangisanmu. Entah, saat mendengar itu hatiku seperti dilanda rindu
yang sangat dalam. Biasanya saat kau seperti itu, aku bisa saja memelukmu untuk
menenangkanmu. Memelukmu hingga kau merasa nyaman dan membisikan kepadamu bahwa
semua akan baik-baik saja.
Saat mendengar itu, rasanya aku ingin berlari untuk memelukmu namun sayang
jarak memisahkan kita. Aku sendiri tidak bisa mendefinisikan perasaanku saat
itu. Yang aku tahu, aku benar-benar rindu. Rindu untuk selalu ada disampingmu.
Rindu memelukmu, rindu memarahimu, rindu menjahilimu, rindu tertidur
dipangkuanmu, rindu merasakan kenyamanan saat berada didekatmu, rindu memandang
dirimu dan aku benar-benar rindu semuanya tentang dirimu. Kau satu-satunya
orang yang membuatku nyaman berada didekatmu walaupun saat itu kita saling
diam. Karena bagiku diam saja sudah mampu menafsirkan ribuan perasaan saat
didekatmu.
Teruntuk dirimu, sahabat terbaikku, aku benar-benar merindukanmu, kamu yang
kuat yaa sayang. Semoga kita bisa berjuang bersama lagi dan Allah mempertemukan
kita segera :’)
311025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar