Dini hari, udara pagi
masuk melalui celah-celah kamarku. Seperti biasa mataku masih sulit dipejamkan
karena kebiasaanku bangun ditengah malam
lalu sulit untuk tidur lagi, mungkin ini saat yang baik untuk bermuhasabah. Merefleksikan
apa saja yang sudah ku alami, khususnya satu tahun terakhir. Satu tahun yang
telah mampu mengubah banyak hal dalam hidupku, baiklah izinkan kali ini aku
merancau tentang itu.
Aku masih saja melihat
coretan-coretan mimpiku, beberapa ada yang sudah tercapai namun banyak juga
yang belum. Membayangkan apa saya yang sudah ku alami satu tahun ini, satu
tahun yang banyak memberiku pelajaran tentang hidup. Satu tahun yang
mengajariku bagaimana mengikhlaskan, bagaimana menjadi sosok yang lebih sabar
dan lebih tangguh, satu tahun yang
mengajariku bagaimana menghargai perasaan orang lain dan masih banyak lagi.
Orang-orang disekitarku
mengatakan banyak yang berubah dalam diriku, bagiku itu kabar baik, artinya ada
‘renofasi’ didalam diriku walaupun belum seberapa. Baiklah, sepertinya aku
mulai bingung bagaimana harus memulai menceritakannya. Tapi mungkin ‘perubahan’
menjadi tema yang cukup menarik bagiku.
Satu tahun lalu, aku
mengalami kekecewaan yang luar biasa. Dimana aku harus menjalini takdir-takdir
yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Mungkin salahku juga, menganggap hidup
ini selalu seperti novel-novel yang kubaca atau seperti cerita-cerita negeri
dongeng yang sering ku tonton. Ironi, hal itu membuatku lupa bahwa hidup tak
selalu sesuai rencana kita.
Sering ku baca kutipan
kalimat ini, “Jika setiap harapan kita selalu tercapai, maka kita tak akan
pernah belajar bahwa kecewa itu menguatkan”. Menurutku itu tidak salah, karena
banyak kekecewaan yang sebenarnya membuatku menjadi sosok yang lebih kuat,
membuat kita sadar bahwa seharusnya hanya kepada Allah kita menggantungkan
harapan-harapan kita.
Satu tahun lalu, aku
merasakan bagaiamana rasanya ditinggal orang-orang yang disayang. Terpaksa harus
menjalani semuanya sendiri, mungkin atau memang sebenarnya ini salahku,
terlambat menyadari bahwa orang-orang disekitar kita pada akhirnya juga akan
pergi, melanjutkan hidup mereka masing-masing. Saat-saat yang sulit bagiku, memasuki
lingkungan yang sangat asing dan tak pernah menjadi apa yang aku mimpikan,
memikirkannya saja aku tak pernah dan lebih buruknya lagi, aku harus
menjalaninya sendiri.
Awal yang buruk, tak
pernah satu haripun ku lalui tanpa tangisan, menyesali takdir. Tapi aku faham
betul bagaimana cara menyembunyikan tangisan itu didepan orang-orang. Tapi,
sosok sahabat juga selalu faham bagaiamana peliknya perasaan kita, itu kabar
baiknya. Disaat dunia rasanya mau runtuh, meraka selalu menguatkan, walaupun
tak berada di sisiku.
Hari demi hari ku lalui,
membuatku sadar bahwa hidup harus terus berlanjut. Perlahan aku mulai berusaha
menerima keadaan dan merevisi mimpi-mimpiku. Penerimaan itulah yang membuat
keadaanku berangsur-angsur membaik. Melibatkan Allah dalam setiap rencanaku.
Dan sampai hari ini, aku
banyak menuai hasilnya. Allah memberi apa yang kita butuh, bukan apa yang kita
inginkan. Jika saat itu Allah tak menegurku dengan kekecewaan, mungkin sampai
hari ini aku tak akan pernah belajar bahwa rencana Allah selalu lebih baik dari
recana kita, bahwa banyak hal-hal indah yang sebenarnya ingin Allah berikan dan
aku bersyukur atas hidupku yang sekarang ...



