Jumat, 11 Oktober 2013

Bintang Fajar





Bintang-bintang di langit
Menyimpan sejuta misteri
Berkedip-kedip bermain mata
Seolah mengajak kita berkenalan lebih dekat

Bintang-bintang di langit
Memiliki sejuta rahasia
Membentuk gugusan indah
Menerangi langkahku disetiap malam terang

Bintang-bintang di langit
Namamu indah Canopus......Capela......Vega......
Pancarkanlah sinarmu
Terangilah jalanku....


Bintang fajar, tak sengaja ku jumpai pagi ini. Cahayanya menyejukkan, bagiku bintang fajar sangat berbeda. Perpaduan antara cahaya bulan dan bintang di kala fajar serta udara pagi yang menyejukkan dan lantunan ayat-ayat suci qur’an pagi ini membuat aku termenung. Memikirkan banyak hal.

            Suasana pagi ini membuat ingatan-ingatan masa laluku kembali datang. Teringat saat-saat aku berada jauh dari rumah, saat aku selalu menyempatkan diri untuk melihat langit di kala fajar, selalu saja bisa menenangkan fikiran. Bisa saja aku hanya duduk diam dibawah langit, benar-benar hanya diam dan mengundang ‘keheranan’ teman-teman didekatku datang. Sungguh, aku tidak sedang melamun kosong seperti dugaan mereka tapi saat itulah aku sedang memikirkan banyak hal tentang masa lalu ataupun masa depan.

            Bintang fajar, kali ini ketika melihatnya akupun teringat pada sosok ‘malaikat tak bersayap’, kedua orangtuaku. Semua perjuangannya untukku, selalu saja membuatku tak bisa untuk tidak bersyukur. Aku benar-benar tak sampai hati jika suatu saat nanti membuat mereka kecewa.

            Bintang fajar, suatu saat nanti aku ingin seperti kalian. Menjadi setitik cahaya di kala kegelapan datang. Aku juga ingin selalu melihat kalian di sisi-sisi bumi lain yang berbeda.

*tih, 121013*

Rabu, 18 September 2013

Bahagia itu sederhana






Ide menulis artikel kali ini datang dari sekumpulan anak-anak kecil yang saya temui dijalan sore hari saat pulang sekolah beberapa hari lalu. Kebetulan trotoar jalan yang saya lewati ada galian lubang proyek under pass yang belum selesai. Karena akhir-akhir ini hujan sering datang ke kota saya, maka lubang tersebut dipenuhi genangan air. Iyaa, genangan air bercampur tanah liat jadi warnanya seperti susu coklat *hehehe*.

Apa yang menarik? Lubang yang berisi air itu pun bisa jadi kolam berenang dadakan bagi anak-anak tersebut. Jika dilihat sih memang airnya keruh, tapi memperhatikan keceriaan mereka ketika bermain disana membuat saya berfikir, “ah..ternyata bahagia itu sederhana sekali”. Anak-anak itu berenang, bermain bola dan tertawa bersama teman-temannya meskipun hanya bermain di lubang galian yang sebenarnya jauh dari kesan mewah, malah bagi sebagian orang sangat menjijikkan. Mereka tetap saja bermain tidak peduli pandangan orang-orang yang melihat mereka.

Bahagia itu benar-benar sederhana. Buktinya, anak-anak itu tak butuh kolam renang mewah untuk bahagia. Kubangan air yang bagi sebagian besar menganggapnya kotor dan jorok itu pun bagi anak-anak itu adalah ‘surga’ dimana mereka bisa mendapatkan kebahagiaan.

 Iyaa memang kalo difikir-fikir urusan itu kurang baik kalo dilihat secara biologi, fisika maupun kimia *hehehe* tapi sekali-sekali kan gak kenapa-kenapa, berani kotor *korban iklan, hihi*

Saya masih bisa membayangkan bagaimana wajah keceriaan mereka saat itu. Ahhh anak-anak memang nampaknya makhluk yang penuh keceriaan dan bisa menularkan kebahagiaan mereka kepada siapa saja :’)

            Setiap kejadian itu bisa di ambil hikmahnya. coba untuk melihat dan merasakannya, semoga timbul pemahaman-pemahaman baru yang baik.
Semoga postingan kali ini bermanfaat yahh..

*tih (180913) 15:52

Jumat, 06 September 2013

Nikmatilah :)





            Teman, mari kita luangkan waktu sejenak. Mengapa tidak kita perhatikan dengan seksama alam sekitar ini? Yang begitu ceria menemuimu, namun terkadang kita tampak lesu  menyambutnya, mengapa?

            Ketika menemui udara pagi yang cerah, langit hari begitu indah, mengapa kita sibuk mencemaskan hujan yang tak kunjung datang? Bila saja kita nimkati semuanya tanpa keluh kesah, pastilah kita dapat mengerjakan begitu banyak kegiatan dengan penuh kegembiraan. Nikmatilah, karena jika kita tidak menikmatinya, saat hujan menggenangi tanah, kita pun akan kembali resah memikirkan kapan hujan berhenti.

            Mangapa pula kita harus memikirkan sesuatu yang tidak ada, namun suatu saat pasti akan hadir juga? Sedangkan memikirkan hal itu hanya akan membuat kita kehilangan keindahan hari ini karena mencemaskan sesuatu yang belum pasti.

            Jika hari ini kita menderita, maka nikmatilah segalanya, karena berfikirlah bahwa inipun akan berlalu. Jangan mengeluh, karena bila suatu saat nanti kita jauh lebih menderita, dikhawatirkan kita tak akan sanggup untuk menerimanya. Maka, nikmatilah rasa sedih dengan mengenang kesedihan yang lebih dalam yang pernah kita alami.

            Maka nikmatilah. Jangan sampai  kita kehilangan nikmat dari penderitaan dan hanya mendapatkan getirnya saja. Nikmatilah dengan bersyukur dan memanfaatkan apa yang kita miliki dengan lebih baik lagi agar esok menjadi sesuatu yang lebih berguna.

            Nikmatilah rasa galau dengan bertafakur lebih banyak atas permasalahan yang kita hadapi, dengan memikirkan kedewasaan yang akan kita gapai atas keresahan itu. Nikmatilah rasa amarah dengan kemampuan mengendalikan diri. Dengan memikirkan kemenangan atas diri pribadi yang tak semua orang dapat melakukannya.

            Berfikir postiflah atas apa pun yang kita jalani, atas apapun yang kita hadapi, atas apapun yang kita terima, karena dengan begitu kita akan bahagia. Nikmatilah karena inipun akan berlalu. Nikmatilah, agar kita tidak kehilangan hikmah dan keindahannya saat segalanya telah tiada :’)

            Baru-baru ini sahabatku pernah mengucapkan kalimat yang membuatku berfikir, kira-kira kalimatnya seperi ini, “Simpan kepedihanmu, ceritakanlah nanti setelah kau sukses”. Ahh iyaa, ku fikir kalimat itu benar sekali, karena pengorbanan terkadang atau bahkan seringkali penuh dengan kepedihan dan kepahitan namun itu harus kita hadapi. Pengorbanan adalah sarana untuk mencapai keinginan. Jadi, jika ingin keinginan terwujud maka pasti harus ada pengorbanan. Nikmatilah saja prosesnya, toh kepedihan akan segera berlalu. Dan kepedihan itu memang tak seharusnya di umbar. Mungkin pengecualian jika suatu saat nanti kita sudah mendapat gelar 'sukses' , mungkin kepedihan itu harus diceritakan dengan niat agar dapat dijadikan pelajaran dan motivasi untuk orang lain.

            Ibnu Al-Jauzi pernah berkata, “ Aku pernah dihimpit permasalahan yang membuatku gelisah dan galau berlarut-larut. Kupikirkan dan ku cari solusi dengan segala cara dan usaha. Tapi, aku tidak menemukan satu jalan pun untuk keluar  darinya. Namun, ku sadari bahwa jalan keluar satu-satunya drai segala kegalauan adalah ketakwaan. Dan ketika jalan ketakwaan itu ku tempuh, tiba-tiba Allah sudah lebih dulu menurunkan penyelesaian”. :’)

Semoga bermanfaat ^_^
                       

Rabu, 28 Agustus 2013

Masa Lalu








            Masih terlintas dikepala saya, celotehan dua hari yang lalu dengan teman saya. Sebenernya biasa saja, waktu itu kami sedang mengobrol dan dia menyebutkan kata yang mengingatkan kami pada masa kecil dulu. Lucu sekali mengingatnya, dan akhirnya tanpa disadari kami asik menceritakan bagaimana masa kecil kami dulu.
            Sangat menyenangkan, tentu saja dulu ngak ada  yang namanya permainan online, atau apalah. Semuanya masih sederhana, menyenangkan, dan tentunya murah. Tidak seperti sekarang tentunya. Entah harus merasa senang atau malah miris melihat keadaan anak-anak sekarang.
            Senang karena dulu, kami masih bisa merasakan betapa menyenangkannya dunia anak-anak dengan permainannya, tontonannya dan tentunya lagu-lagunya. Saya masih ingat betul film yang sering saya tonton dulu adalah film “petualangan sherina” sama yang film jhosua itu loh, rasanya senang sekali jika mengingat masa-masa itu.
            Tapi juga sedih melihat anak-anak sekarang yang ngak bisa merasakan betapa menyenangkannya jaman dulu, liat aja sekarang jarang banget ada lagu anak-anak, yaa jadi anak-anak yang masih kecil aja nyanyiannya udah dewasa banget, saya yang udah gede’ aja kadang suka ngak ngerti dengen lirik lagunya maklum #polos hehehe :p
            Saya ingat betul, dulu taunya Cuma makan sama main. Mainan apa  aja, pokoknya ada aja yang bisa dilakuin sama temen-temen masa kecil saya itu. Yang paling say ainget sih main masak-masakan, boneka, main petak umpet, main rumah-rumahan, main kelereng, lompat tali, nyanyi-nyanyian dann masihhh banyak lagi,haha. Tapi ini versi waktu saya masih belum sekolah yaaa.
Ngak jarang loh kami dimarahin karena ribut, atau main kejauhan dan paling ekstrem sih waktu itu sampe pernah manjat-manjat pohon, ampunn bandelnyaa yaaa :D. Tapi kalo udah jam makan siang kami mah biasa makan bareng dan akhirnya dengan berat hati biasanya setelah itu saya harus pulang untuk tidur siang.
Dulu kalo jam tidur siang rumah saya dikunci biar saya ngak diem-diem keluar, hehe tapi tetep aja sih walaupun rumah dikunci kadang-kadang saya masih suka diem-diem main, tapi lewat jendela. Saya didalem rumah dan temen-temen saya diluar, biasanya Cuma bisa nontonin temen-temen saya main,yang masih dibolehin keluar sama orang tuanya. udah kayak di penjara, hehe. Heran deh, dulu waktu kecil susah banget disuruh tidur siang, tapi sekarang kalo siang mah bawaannya pengen tidur aja, tapi ngak bisa yaa.
Nah kalo udah lewat jam tidur siang, pintu rumah ngak dikunci lagi. Tapi bukan berarti bisa bebas, itu jadwalnya saya ngaji, asik juga sihh bisa ngaji tapi main-mainnya ngak ketinggalan, haha.
Nah sorenya bisa main lagi, biasanya sih main sepeda atau skuter yaa jaman dulu ada kan, atau nangkep capung,belalang,kecebong apa aja deh, malah pernah nangkepin lalet sampe banyakkkk banget, jorki banget yaaa -_- hehe, pasti dimarahin deh kalo udah  nangkep lalet, tapi asik loh melatih.. melatih apa yaa? Mungkin melatih kesigapan, maklum lalet kan gampang kabur kalo udah dideketin, hahaha.
Nah namanya juga anak-anak, kalo main mah ada aja berantemnya. Akhirnya nangis terus pulang, ngadu sama orangtuanya, nah kalo sudah buat anak orang nangis kita mah biasa ngumpet biar nagk dimarahin, hihi. Tapi kalo berantem sih ngak lama-lama paling juga beberapa menit kemudian udah baikan,asik banget kann dulu :’)
Nah kalo udah mandi biasanya kita diajak main ke ‘tanah abang’, lapangan dideket rumah saya, biasanya juga suka ada pameran, asik aja jalan-jalan disana, tapi sekarang sayangnya udah ngak ada lagi :’(
Nah berhubung dulu kami juga pada punya mbak, jadi dulu itu hobi banget ngikutin kemana mbak kita pergi, alhasil mereka sering marah-marah. Tapi kami masih aja ngikutin mereka, kalo masih tetep ngak di ajak sih biasanya kami ngadu ke orangtua masing-masing, dan *jreennnnggg* sering malah mereka yang akhirnya jadi dimarahin gara-gara ngak mau ngajak kami main, hoho :D seneng rasanya *jahat banget* :p
Dulu juga orangtua saya rajin banget ngajak saya sama mbak dengan kakak saya jalan-jalan kalo sore,kemana ajaaa dan itu artinya bisa bebas beli apa aja, hehe asikkkk banget, best momment deh..
Kalo pas bulan puasa habis shubuh kami pantang banget buat tidur, ini waktu spesial, kami boleh keluar sepedaan atau jalan-jalan sepuasnya sampe pagi.  Menikmati sejuknya udara pagi :’) atau kadang-kadang juga boleh sih keluar pagi diluar bulan puasa untuk lari pagi, itu juga biasanya habis shubuh, tentunya harus bareng sama mbak-mbak kami. Pulangnya biasanya beli jajanan, yang paling  sih susu kedelai.
Tapi itu semua dulu, sekarang kita udah pada hidup masing-masing. Udah besar yaa, pola fikirnya juga beda, bagaimana cara agar bisa mengapai cita-cita masing-masing. Kami juga udah banyak pisah. Tapi berhubung saya dari kecil sampai sekarang masih tinggal di tempat yang sama, jadi kadang-kadang kalo liat anak-anak tetangga main suka senyum-senyum sendiri, iyaa meskipun permainan anak-anak sekarang dengan dulu agak beda, tapi kepolosan mereka itu loh yang masih akan tetap ada, bikin gemeesss, beberapa tahun yang lalu ditempat yang sama, dulu juga saya and the genk *eh* :D pernah main ditempat itu ;’)
Hemm.. jadi orang dewasa menyenangkan, tapi susah dijalanin :’) :D

Kau jauh melangkah
Melewati batas waktu
Menjauh dariku
Akankah kita berjumpa kembali

Sahabat kecilku
Masihkah kau ingat aku
Saat kau lantunkan
Segala cita dan tujuan mulia

Tak ada satupun masa
Seindah saat kita bersama
Bermain-main hingga lupa waktu
Mungkinkah kita kan mengulangnya...

Tiada...Tiada lagi tawamu
Yang slalu menemani segalaSedihku...
Tiada...Tiada lagi candamu
Yang slalu menghibur disaat
Ku lara...

Bila malam tiba
Ku slalu mohonkan doa
Menjaga jiwamu
Hingga suatu masa bertemu lagi


Sahabat kecilku..
Masihkah kau ingat aku...

*Sahabat Kecilku_Gita Gutawa